BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem 10–11 Januari: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang


Infotik.id // JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda sejumlah wilayah Indonesia pada periode 10–11 Januari 2026. Masyarakat diimbau waspada terhadap ancaman hujan lebat yang dapat disertai angin kencang.

Rekor Hujan Ekstrem di DIY dan Sumbar

Berdasarkan data terbaru, intensitas hujan dalam sepekan terakhir telah mencapai level ekstrem. Wilayah DI Yogyakarta mencatatkan curah hujan hingga 165 mm per hari, disusul oleh Sumatera Barat dengan intensitas 159,2 mm per hari. Peningkatan drastis ini dipicu oleh dinamika atmosfer yang sangat aktif.

Pemicu Utama: La Nina dan Monsun Asia

BMKG menjelaskan bahwa cuaca buruk ini merupakan hasil perpaduan beberapa fenomena atmosfer sekaligus:

La Nina Lemah: Memicu peningkatan pasokan uap air di wilayah Indonesia.

Monsun Asia & Cold Surge: Penguatan angin monsun yang disertai seruakan dingin mempercepat pertumbuhan awan hujan.

MJO & Gelombang Ekuator: Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) bersama Gelombang Kelvin dan Rossby kini melintasi sebagian besar wilayah, mulai dari Aceh, Jawa, hingga Papua.

"Suhu muka laut yang hangat di perairan Indonesia juga memperkaya ketersediaan uap air di atmosfer, sehingga mendukung pertumbuhan awan konvektif secara masif," tulis BMKG dalam keterangan resminya.

Wilayah yang Perlu Waspada

Dalam sepekan ke depan, gangguan cuaca diprediksi akan terkonsentrasi di wilayah:

1.Sumatera: Aceh dan Sumatera bagian selatan.

2.Jawa & Nusa Tenggara: Seluruh Pulau Jawa, NTB, dan NTT.

3.Kalimantan & Maluku: Kalimantan, Maluku, dan Maluku Utara.

4.Papua: Sebagian besar wilayah Papua, Papua Pegunungan, hingga Papua Selatan.

Pemerintah dan masyarakat diharapkan terus memantau informasi cuaca terkini untuk meminimalkan dampak risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.

BMKG memprediksi cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang akan terus berlangsung hingga 11 Januari 2026. Kondisi ini merupakan kelanjutan dari hujan ekstrem yang sebelumnya sudah melanda DIY dan Sumatera Barat. 

Fenomena ini disebabkan oleh kombinasi faktor global dan regional, seperti kondisi La Nina lemah, penguatan Monsun Asia, serta aktifnya gelombang atmosfer (MJO, Kelvin, dan Rossby) di sebagian besar wilayah Indonesia. 

Tingginya suhu muka laut turut memperparah keadaan dengan meningkatkan produksi uap air, sehingga pertumbuhan awan hujan menjadi sangat intens di berbagai daerah dari ujung barat hingga timur Indonesia. ( dikutip dari CNN indomesia )

Post a Comment

Previous Post Next Post